Jumat, 07 Agustus 2015

Perempuan

Percakapan tadi siang seolah menyimpan dusta
Ketika seorang perempuan bercerita tentang pahitnya sebuah perpisahan yang disuguhkan dengan canda
Namun binar dimatanya berkata lain
Ia nampak rapuh meski sesekali senyum itu mencoba menutupi

Lelaki yang selama 21 tahun mendampinginya
Melenggang pergi demi perempuan lain yang baru dia kenal
Meninggalkan kedua buah hati yang menjadi harta satu-satunya
"Apa cinta baginya sebercanda itu?" umpatku dalam hati

Kini ia seorang janda 2 anak yang nampak seperti wonder women dimataku
Seorang perempuan yang tidak hanya menjadi ibu, tapi juga ayah bagi anak-anaknya
Perempuan hebat dengan sejuta beban dipundaknya
Namun guratan senyum tak hentinya ia pajang di depan mata dunia

"Mungkin ini memang sudah jalannya, ibu terima dengan penuh kesadaran"
Begitu perkataan penguat hati dari seorang perempuan setengah baya
Masih dengan senyum yang mengembang dibibirnya
Senyum yang ia gunakan sebagai tirai penutup lara
Tak pernah terlintas dalam benaknya mencari imam yang lain

Sejenak aku terenyak dengan kisahnya
Kisah haru yang tak semua orang bisa melalui
Berjuta rasa bergemuruh dalam dada
Beribu asa kusemat dalam hati
Bagaimana kalau aku yang berada diposisinya saat itu?
Apakah bisa aku setegar dia sekarang?

Maha suci Allah yang membolak-balikkan hati manusia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tiga Satu