Kembali ku tuntun pena dalam genggamanku
Berdiri tepat di atas lembaran kertas putih
Titik demi titik ku sambung menjadi satu
Merangkai kata yang tak bersinergi
Aku yang kini dibalut tanda tanya besar
Akan kemana aku setelah ini?
Jalan mana yang akan ku pijak?
Sementara harapan menjauh pergi
Tanah ini tak lagi basah seperti saat terguyur hujan
Tak juga kering karena sang mentari enggan menampakkan diri
Anginpun kini tak lagi menebar aroma bunga
Menghempas dedaunan dan sesekali meliukkan ranting
Gejolak dalam jiwa seolah menjelma bagai api
Mampu memanaskan hampir sekujur tubuh
Dan jika tubuh itu tersiram air
Maka berkaratlah seluruh jiwa mengeras bagai batu
Tapi aku ini mega...
Kelapanganku melebihi luasnya darat dan lautan
Tak bisa terinjak dan tak akan tergoyangkan angin
Juga tak akan terbakar api
Akulah mega...
Matahari dan bulan sebagai penerangku
Juga bintang sebagai penghiasku
Hujan dan petir senjataku
Dan pelangi sebagai pemanisku
Akulah mega...
Yang membungkus semesta
Yang begitu dekat dengan sang maha pencipta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar