Senin, 18 April 2022

"---"

Kesendirian mengajarkanku banyak hal.
Tentang rasa syukur yang harusnya melangit, juga tentang kesabaran yang sepatutnya membumi.

Tidak semua yang aku ingini harus aku miliki, tidak semua yang aku mau harus aku dapatkan saat ini juga, mungkin nanti, jika tiba waktunya.

Dan kini, aku masih menunggu untuk sesuatu yang sudah Allah tetapkan, entah itu Kamu atau malaikat Izrail. Mana yang lebih dulu akupun tak tau.

Mana pun yang lebih dulu, aku meyakini itu adalah yang terbaik untukku.






***

Kamis, 14 April 2022

Apa?

Malam ini, apa yang kutunggu?
Apa yang membuat kantuk belum jua muncul?
Padahal musik pengantar tidur sudah sejak tadi mengalun lembut di telinga, membisikkan kata-kata indah berbalut nada syahdu.

Jadi, apa yang kutunggu?




***

Selasa, 12 April 2022

Surat untukmu (5)

Assalamualaikum Akhi..
Gimana puasanya? Lancar? Apa udah ada bolong-bolong? Hehe..
Sudah lama tak bersurat untukmu, semoga sehat kamu disana, dimanapun kaki dipijak.
Bagaimana cuaca di tempatmu? Apakah masih tak menentu seperti di tempatku?

Pada kesempatan ini aku ingin bercerita, terlepas entah kapan tulisan ini akan sampai kepadamu. Yang aku yakini, Tuhan akan mengirimkanmu sebagai teman bercerita yang baik untukku. Insyaallah.

Pagi ini berita duka terdengar dari rumah tetangga. Jantungku seperti berhenti berdetak barang sepersekian detik. Mengingat kembali moment itu, ketika berita kepergian ayah disuarakan di toa mesjid.
Tanpa sadar, otak ku memutar kembali kenangan  itu, dengan setiap detil yang menyakitkan.

---

Kurang lebih pukul 02.00 dini hari, mamah membangunkanku. Suasana rumah sakit cukup hening saat itu. Ku lihat ayah masih terbaring di atas kasur dengan selang terpasang dihidungnya. Matanya menatap kosong sekeliling, tapi mulutnya sudah tak bersuara.
Malam itu, entah kenapa aku merasa hal buruk akan terjadi. Tepat dua pekan di rumah sakit, mamah memutuskan untuk membawa ayah pulang, dokter pun tak menolak, sepertinya mereka pun merasa sudah tak sanggup, hanya saja tak berterus terang.

Singkat cerita tiba di rumah kurang lebih pukul 11 siang, tetangga sudah berkerumun di halaman rumah. Dan ayah masih saja diam, dengan tatapan mata yang masih kosong.
Bada dzuhur suasana rumah kembali sepi, hening. Sampai tiba di titik ayah menghembuskan nafas terakhirnya, hanya ada aku dan mamah di samping kiri dan kanan. Matanya seperti hidup, menatap ke atas, sekejap, kemudian terpejam dan tak bangun lagi.

Aku menangis sejadi-jadinya, badanku lemas, air mata mengalir deras, mulutku sudah tak bisa berkata-kata. Kesedihanku tumpah ruah, hatiku hancur sehancurnya, luruh seluruhnya. Itu adalah patah hati terbesar yang pernah ku alami.

---

Hatiku mencelos, kukira semua sudah baik-baik saja. Tapi ternyata tidak. Ini ramadhan ketiga setelah ayah tiada, tak terasa waktu berlalu begitu cepat.
Dan sepertinya Moci masih menjadi laki-laki terganteng di rumah ini, hehe.. Kucing ko ganteng, kucing mah lucu bukan ganteng. Tapi dia kucing yang ganteng, percaya deh, nanti ya kamu lihat.

Terimakasih sudah menjadi teman bercerita yang baik, dan semoga cepat menemukanku. Karena aku meyakini, kamu adalah hadiah terindah dari Tuhan yang membuatku tak perlu lagi mempertanyakan banyak hal.





***

Tiga Satu