Rabu, 25 Maret 2015

Untuk Sahabat

Telah kemana senyummu yang dulu manis itu?
Kenapa bibir yang seksi itu kau tekuk?
Kenapa pula kau menghamburkan air dalam matamu?

Sahabat, ketahuilah...
Kau lebih menawan dengan senyum itu
Kau lebih menggoda dengan sorot mata yang cerah itu
Akan ada antrian panjang para pria yang bersedia memuliakanmu
Dan panjangnya antrian itu melebihi kenangan masa lalumu

Berhentilah menghukum diri dengan terus mengenang masa lalu
Berhentilah menyulut luka dengan terus menutup diri
Dunia sebenarnya jauh lebih indah bila kau mau membuka jendela
Lihat, keluar, dan berlari lah!

Sebelum kau tertinggal...

Realita

Sinetron kah ini?
Atau hanya ilusi?
Seperti nikotin yang memberi rasa nyaman
Sesaat, kemudian meracuni         

Kisah ini tak selalu seperti halnya sebuah pementasan drama
Dimana yang baik selalu menang
Kadang kala kurawa berdiri di atas pandawa
Dan kadang hewan buas menerkam binatang jinak

ALUMNI HATI

Heii…
Alumni hati…
Aku seperti tak pernah kehabisan kata untukmu
Jemari ini dengan lincahnya menari di atas keyboard
Menuangkan kata yang tersirat dalam otak
Tentangmu, masih tentangmu…

Sungguh menyedihkan menjadi aku
Yang selalu berharap kau merindukanku
Saat sehelai bulu mata jatuh di pipi

Aku bukan sedang merajuk agar kau kembali
Karna apabila pagi ini kau menyeduh kembali kopi sisa semalam
Pasti rasanya tak akan sama
Tak ubahnya kisah ini

Tapi ada satu hal yang ingin ku tunjukkan padamu
Bahwa aku masih bisa tersenyum tanpamu
Dan jika suatu saat nanti kau merindukanku
Jangan salahkan aku bila rindu ini tak lagi milikmu



Tiga Satu