Kembali ku tuntun pena dalam genggamanku
Berdiri tepat di atas lembaran kertas putih
Titik demi titik ku sambung menjadi satu
Merangkai kata yang tak bersinergi
Aku yang kini dibalut tanda tanya besar
Akan kemana aku setelah ini?
Jalan mana yang akan ku pijak?
Sementara harapan menjauh pergi
Tanah ini tak lagi basah seperti saat terguyur hujan
Tak juga kering karena sang mentari enggan menampakkan diri
Anginpun kini tak lagi menebar aroma bunga
Menghempas dedaunan dan sesekali meliukkan ranting
Gejolak dalam jiwa seolah menjelma bagai api
Mampu memanaskan hampir sekujur tubuh
Dan jika tubuh itu tersiram air
Maka berkaratlah seluruh jiwa mengeras bagai batu
Tapi aku ini mega...
Kelapanganku melebihi luasnya darat dan lautan
Tak bisa terinjak dan tak akan tergoyangkan angin
Juga tak akan terbakar api
Akulah mega...
Matahari dan bulan sebagai penerangku
Juga bintang sebagai penghiasku
Hujan dan petir senjataku
Dan pelangi sebagai pemanisku
Akulah mega...
Yang membungkus semesta
Yang begitu dekat dengan sang maha pencipta
Sabtu, 27 Desember 2014
Selasa, 18 November 2014
Muji Kecil
"Mama... Buruan,
teman-temanku sudah menunggu" teriak seorang anak perempuan yang minta
diikatkan tali sepatu oleh mamanya. Ya itu aku 'Listia Muji Rahayu' saat
pertama masuk Sekolah Dasar, aku tak bisa mengikat tali sepatu waktu itu. Tali sepatu sudah di ikat, pakaian
sudah rapi, rambut pendek tipisku yang sedikit keriting sengaja ku gerai. Ini hari pertama aku masuk sekolah,
berangkat bareng Yati teman dekatku ditemani kakak perempuannya yang saat itu
berada di kelas 6.
Setibanya di sekolah. Akh
kenapa harus lari, entah apa yang ku pikirkan saat itu hingga aku dengan
senangnya berlari mengejar temanku dari pintu gerbang sampai ke depan kelas. Suasana
kelas yang ramai dipenuhi para siswa baru serta ada beberapa orang tua yang
mengantar anaknya ke sekolah.
"Hiiiiks hiiiks hiiiks...."
Seorang anak perempuan menangis di teras depan kelas, di sampingnya berdiri
seorang ibu yang dengan setia membujuk anak kesayangannya. Di sela tangisnya
anak itu berkata "Aku gak mau sekolah ma, mau pulaang.. Hiiiks hiiiks.." Aku tak menghiraukan anak itu,
kemudian ngeloyor masuk ke dalam kelas. Oohh tidak, banyak sekali siswanya?
Sedangkan kursinya? Hanya ada beberapa kursi di kelas tersebut, dan disinilah
dunia terasa begitu sempit -_- .
Satu kursi panjang
berbahan kayu ditempati oleh 4-5 orang, dan sialnya aku duduk berlima waktu
itu. Aku coba untuk mengingat mereka yang dulu membuatku menderita dengan
terjepit di kursi yang tak empuk itu, tapi aku tau mereka juga menderita.
Mungkin kalau dulu sudah zaman alay, aku pasti akan berkata "sakitnya tuh
disini" *pegang pantat, kerdipin mata 2x*. Eka, Yuli,
Sumi, Yati, dan aku sendiri pastinya. Ya, sepertinya itu dia mereka yang dulu senasib denganku.
Dan saat pelajaran pertama dimulai, gerah kemudian melanda. Ohh tidak,,, AC
mana AC? *kemudian buka jendela dan masuklah AG (Angin Gelebug)*. Sempit sekali, dan terasa begitu
sangat menderita. Ingin rasanya lari keluar dan berteriak "Mama...
Selamatkan aku... Bagaimana anakmu ini bisa belajar dengan konsen kalau duduk
berlima seperti Girlband ngantri BLT?"
***
"Assalamualaikum.."
Sapaku ketika sampai di rumah. Terasa begitu capek, mungkin karena ini hari
pertamaku masuk sekolah. Taukah kalian, aku dan teman-temanku yang lain
berjalan kaki pulang-pergi ke sekolah setiap hari. Maka jangan heran kalau anak
kampung rata-rata memiliki betis yang sedikit lebih besar. Hey, jangan sebut
Talas Bogor walaupun hampir mirip, karena itu penghinaan.
Mama menyambutku dengan
senyum gembira "Wa'alaikumssalam.. Gimana tadi sekolahnya sayang?".
Aku menjabat tangan mama, kemudian duduk di teras. "Sesak sekali kelasnya
ma, aku aja duduk berlima. Kursinya gak cukup" jawabku mengadu pada mama.
"Oo'yaa?.. Tadi
duduk sama siapa aja? Udah punya temen baru kan?" Mama sepertinya sedang
mencoba menghiburku. "Sama
si Eka, Yuli, Sumi, sama Yati ma. Si Eka sama Yuli itu orang Bekasi lho ma,
mereka sodaraan" aku berkata dengan antusias, seperti hilang sudah rasa
capek tadi. Setelah berbincang
dengan mama, kemudian bergegas makan, selanjutnya aku pun berlalu pergi main
bersama teman sekolah sekaligus teman sekampungku. Ria, Yati, Erna, dan Kur.
Aku termasuk tipe orang
yang lumayan disiplin waktu itu. Malem pulang ngaji langsung belajar sambil
nonton tv yang hanya punya 2 warna, hitam dan putih. Yaa,, walaupun cuma belajar nyoret-nyoret
buku buat ngelancarin nulis doang sih. Dan yang paling gak bisa diganggu gugat
adalah, jam 8 malem harus sudah tidur.
***
Suasana pagi yang cerah,
berjalanlah lima anak perempuan dengan wajah unyu *cenderung culun*, tampang
polos *cenderung bloon*. Berjalan menyusuri jalan berbatu berdampingan. *brak,
bruk, brak, bruk* Ya, itu suara tempat pensil dari dalam tas mereka saat
berlari.
*Ngookk* Begitulah
kira-kira suara kalsonnya. Oohh tidak, kenapa harus ada mobil truk itu? Aku
adalah anak yang paling galau saat berhadapan dengan mobil sebesar itu.
Bagaimana tidak? Saat mobil hendak mendekat, tiba-tiba teman-temanku berlarian
menyebrang jalan. Dan sial, aku tertinggal (ʃ_⌣̀)/| . Aku putuskan untuk ikut menyebrang. Saat
hampir tiba, kenapa sopir itu membunyikan lagi klakson yang suaranya jelek itu.
Saking gugupnya, aku kembali menyebrang jalan ke tempat semula. Oohh,, nyaris
sekali. Dan satu hujatan bersarang dibenakku *sakiittnya jleb banget*.
Sekolah telah ramai
dipenuhi siswa berseragam putih merah. Para pedagang yang berjejerpun telah
dikerumuni anak-anak manusia itu. Kenapa sepagi ini sudah menyerbu makanan di
warung? Apa mereka tidak pernah dibuatkan sarapan? Atau mungkin mereka memang
anak-anak manusia yang gembul? Entahlah.
Ada yang aneh saat aku
memasuki kelas, ternyata kursinya beranak pinak jadi banyak. Oohh Tuhan, terimakasih telah
memperbanyak kursi ini. Dan ini saatnya bilang "Merdekaa" \(^_^)/
Pelajaran pertama
dimulai. Ahh,, susah sekali
meluruskan pagar-pagar dalan buku ini. Pensilpun waktu itu sangat tidak
bersahabat. *Srruutt* Suara apa
itu? Akh jorok, ada anak ingusan, entah siapa itu aku lupa. Yang pasti suaranya
sangat menganggu. Hey, buanglah dulu.
*Ting.. Ting..* bel
istirahat telah berbunyi. Saatnya menyerbu warung jajanan dibelakang sekolah.
Hhmm,, baju seragamku kotor kena saus -_-.
Tak bisakah sekolah ini
memperpanjang jam istirahat? Aku masih ingin di luar. "Sekarang pelajaran menggambar,
ayo keluarkan buku gambar kalian" ujar seorang guru perempuan yang berdiri
di depan kelas.
Inilah pelajaran yang
membuatku merasa teramat sangat tidak memiliki jiwa seni. Aarrgghhtt Щ(ºДºщ)
terkutuklah kau gunung-gunung tajam, jalan lurus yang teramat lurus, serta
pohon kelapa miring di sudut gunung. Kenapa ada pohon kelapa digunung? Bukankah
pohon kelapa itu biasa tumbuh dipantai? Dan kenapa harus ada matahari di tengah
gunung itu? *mendadak galau (ʃ_⌣̀)/|*.
***
Hari-hari yang ku lalui
saat itu hampir sama saja di tiap harinya, buktinya aku tidak tiba-tiba berubah
jadi orang dewasa. Bertemu lagi dengan hari senin, hari dimana dilangsungkannya
upacara bendera.
"Kepada, pembina
upacara. Hormaaat grak!" Suara lantang pemimpin upacara memecah
desis-desis suara para peserta upacara. "Tegaaaakk grak!" Dan
tiba-tiba *bruk* suara puluhan tangan menepuk pangkal pahanya masing-masing
secara bersamaan. Kenapa harus seperti itu coba? *mikir keras*
Jam 9 pagi, ini saatnya
siswa kelas 1 pulang, ruang kelas yang dipakai untuk murid kelas 1 setelah itu
digunakan untuk murid kelas 2. Ya begitulah setiap hari, sekolahku belum cukup
maju waktu itu, ruang kelaspun masih kurang.
Beberapa anak berjalan
bergerombol pulang ke rumah masing-masing. Di jalan semua diam tanpa suara, seperti membisu. Entah apa
yang terjadi, sampai tiba-tiba *bruk* "Aduhh.." Hahh? Kur jatuh, tali
sepatunya yang lepas terinjak olehku. "Maaf Kur, aku gak sengaja" aku memohon maaf,
terasa sangat bersalah. "Jahat kamu Lis" dia berbicara ketus padaku. "Si Lis kan gak sengaja
Kur" spontan Ria membelaku. Kur terlihat manyun dan matanya berkaca-kaca.
*Bruk* Oohh tidak, kenapa dia jatuh lagi? Dan ternyata kali ini ulah Erna, dan
itu sengaja. Jail sekali temanku yang satu ini, dan Kur ngeloyor pergi dengan
berlinang air mata. Maafkan temanmu ini kawan.
***
"Nggak mau rambut
keriting, hiiiks hiiiks.." Ya, begitulah aku selalu menangis saat kembali
teringat bahwa rambutku ternyata keriting. Aku iri dengan teman-temanku, rambut
mereka semua lurus. Kenapa aku sendiri yang rambutnya keriting? Aku hampir tiap
pulang sekolah nangis mempermasalahkan rambutku yang tak mau lurus ini.
Aarrgghhtt Щ(ºДºщ). Aku benci rambutku.
Apalagi rambutku ini
selalu jadi bahan percobaan mama. "Sayang rambutnya kalau dimodel kaya
gitu bagus deh" bujuk mama saat melihat orang dengan gaya rambut yang ia
suka. Tidak ada orang yang memotong rambutku selain mama, dan aku pun tidak mau
rambutku dipotong oleh orang lain. Dan selalu setelah memotong rambut, aku
selalu nangis. Kecewa rasanya, potongan rambutku tak pernah sesuai dengan apa
yang diinginkan. Dan
setelah itu, mama selalu ragu kalau aku minta dipotong rambut olehnya.
"Dulu juga kamu malah nangis abis dipotong rambut" ujarnya skakmat.
***
Siswa kelas 1 duduk di
ruang kelas dengan mimik muka yang tegang. "Awas ntar sakit lho,
pegeeeellll banget. Nanti kalo lagi disuntik jangan gerak, ntar jarumnya bisa
patah dan tertinggal di pantat kalian". Salah seorang murid kelas 2 mencoba menakuti kami,
dan itu berhasil. Terlihat wajah-wajah murid kelas 1 begitu pucat. "Apa
benar seperti itu? Aku belum pernah disuntik sebelumnya".
Guru wali kelas ditemani
seorang dokter masuk ke ruang kelas berserta beberapa guru lainnya. *Deg* degub
jantungku mengeras. "Selamat
pagi anak-anak" sapa guru wali kelas. "Ini ada dokter yang akan
menyuntik kalian biar sehat, kalian jangan takut ini tidak akan sakit."
Ibu guru mencoba menjelaskan dengan sabar.
Satu per satu siswa
dipanggil ke depan, ke ruang suntik yang dihalangi tirai. Aku yang sedang
menunggu giliran berharap-harap cemas "Semoga ibu guru tidak berbohong,
semoga ini tidak sakit". Dan tiba-tiba "Huuuwwwaaaa..." Seorang
anak keluar dari tirai dengan menangis seperti kesakitan dan teraniaya, dia
digandeng oleh seorang guru yang mencoba meredakannya. Hey, kau membuat kepercayaanku
terhadap guru sedikit memudar.
Dan tiba giliranku,
"Tenang ya dek, gak akan sakit" bujuk dokter padaku. Aku mencoba
untuk jadi anak penurut, dan.. Ahaa.. Ternyata ini tak seburuk yang
kubayangkan, aku tidak menangis walaupun memang bekasnya sedikit sakit. Tapi
kenapa anak tadi menangis? Akh mungkin dia si anak mami, entahlah.
***
Karet gelang, batu bata,
batu kerikil, kayu, tanah, itu diantara benda-benda yang sering dijadikan objek
untuk bermain. Permainan tradisional, karet gelang yang disambung menjadi tali
untuk main lompat tali, batu bata yang ditumpuk kemudian dirobohkan sebagai
awal permainan petak umpet, batu kerikil yang biasa dikumpulkan dalam jumlah
sedikit ataupun banyak yang dijadikan permainan lempar batu, serta kayu yang di
patahkan untuk kemudian dilempar dan harus ditangkap oleh lawan, kemudian ada
tanah liat yang dibentuk menyerupai boneka. Selain itu, aku dan teman-temanku
dulu termasuk anak-anak korban tv. Ya, kami selalu meniru acara yang ada dalam
program tv. Seperti acara kuis, ataupun meniru film-film yang diputar di tv
terutama filmnya alm Suzanna.
"Hi hi hi hi hi
hi..." Seorang anak perempuan berrambut panjang berdiri di depan kelas
sambil tertawa meniru suara hantu seperti dalam film Suzanna, rambutnya yang
panjang sengaja digerai ke depan menutupi wajahnya. Sementara itu, anak-anak
yang lain bersembunyi di kolong mejanya masing-masing. Ria, anak yang menirukan
hantu itu melangkah perlahan ke arah meja tempat salah seorang anak
bersembunyi. *Deg* kenapa aku ini, dia kan temanku sendiri bukan hantu beneran,
lagian itu hanya permainan. Tapi kenapa aku setakut itu, dasar manusia parno.
Tiba-tiba teman-temanku yang dari tadi bersembunyi di kolong meja berhamburan
lari keluar kelas, aku tak mau ketinggalan jangan sampai hantu jadi-jadian itu
menangkapku "Aaaaaaa...."
Ya, begitulah permainan
anak zaman dulu. Beda dengan permainan anak zaman sekarang, semuanya serba
elektronik. Dan yang lebih miris lagi, permainan tradisional kini perlahan
mulai punah. Apa harus dibentuk Serikat Pelestarian Permainan Tradisional? Atau
apa gitu.
***
Ulangan umum telah tiba.
Selain manis, aku termasuk orang yang baik hati dan tidak sombong *jangan
ngiri*. Aku tidak bisa membiarkan teman-temanku kesulitan saat mengerjakan
soal, jadi aku dengan senang hati mempersilahkan mereka semua untuk nyontek.
Bagaimana? :D
Dan alhasil, saat
pembagian rapor dia yang dulu menyontek padaku masuk peringkat 3 besar di kelas
dan mendapat bingkisan hadiah dari guru. Oohh tidaaakk,, kenapa aku sebodoh
itu? Membiarkan mereka mendapat hadiah dari hasil jerih payahku. Seharusnya aku
yang berdiri di tempat itu untuk menerima hadiah.
"Makanya kalau ulangan jangan dicontekin sama temen kamu, tuh kan
orang mh dapet hadiah kamu mh nggak" ayah menasehatiku setelah kuceritakan
semua. Aku menyesal, dan
setelah kejadian itu aku kapok untuk memberikan contekan pada siapapun itu,
termasuk temanku sendiri. Maaf bukannya aku berniat pelit, tapi aku juga ingin
mendapat hadiah dari guru sebagai tanda penghargaan.
***
Libur sekolah, aku
memanfatkan waktu sebaik mungkin untuk main. Ya begitulah naluri anak-anak.
Kalau tidak nonton kartun, ya main. Apa lagi? Masa nyalonin diri jadi presiden?
Kan mustahil. Dan liburan kali ini temanya main di sawah, sekaligus dalam upaya
menghitamkan diri. Tapi sebenarnya memang sudah hitam sejak lahir -_-.
"Tarik Lis,
terus" teriak Yati sambil perlahan mengulur benang yang terikat pada
layangan. Layanganpun terbang dengan tinggi, meliuk-liuk terhempas angin. Kami
berdua kemudian duduk di pematang sawah sambil menikmati hembusan semilir angin
di sore itu. Sangat sejuk, suasana yang sangat memberi kenyamanan. Sementara
itu, layangan yang kami terbangkan masih dengan santai berliuk mengikuti
hembusan angin. Terlihat juga ada beberapa layangan milik orang lain yang ikut
menari di langit-langit di atas hamparan sawah nan luas.
Selama liburan ini, aku
banyak mendekatkan diri dengan alam. Main layangan di sawah, nyari tutut, atau
ikut memancing ikan di sungai bersama ayah. Dan kadang, naluri jail seorang
anak memang tidak pernah lepas dari anak seusiaku waktu itu. Aku yang sering
main di sawah bersama Yati sering membuat hal-hal aneh.
"Terus Lis, nyampe
licin banget. Ntar biar ada yang lewat kepleset. Haha.. *ketawa jahat*"
Suara Yati serta gelak tawanya semakin membuatku semangat untuk terus
melicinkan pematang sawah yang ku injak itu dengan air. Kedua kakiku telah
kotor berlumuran lumpur, tapi masih tetap bersemangat. Itulah hal yang rutin
kami lakukan saat bermain di sawah.
***
Hujan telah mengguyur
sejak tadi subuh, bagaimana ini? Aku harus sekolah. Kenapa hujan turun di saat
yang tidak tepat? Aku malas kalau harus berangkat ke sekolah pakai payung.
Akhirnya aku berangkat meskipun manyun, dari pada telat ke sekolah. Aku tidak
suka pakai payung, apalagi hujan-hujan gini sepatuku harus dibungkus pakai
kantong plastik agar tidak basah. "Plastiknya jangan dilepas sampai tiba
di sekolah, biar sepatunya gak basah" nasehat ayahku sebelum aku
berangkat. Memalukan sekali bukan? Terlihat sangat idiot, yasudah akhirnya ku
lepas saja plastiknya di depan gang.
Dan sesampainya di
sekolah, sepatuku basah kena air hujan. Ini salahku karena tidak menuruti
nasehat ayah -_-.
***
Becanda ala anak SD tak
jauh dari ledek-ledekan nama orang tua, sepertinya sudah tradisi. "Dung
dang dang dung, suara gendang bertalu-talu" seorang anak laki-laki
berhidung pesek bernyanyi meledekku. Dia meledek nama ayahku 'Endang', aku
balas kau. "Mari-mari berjoged bersama.." Haha, kena kau anaknya mang
'Obed' *kemudian berantem*.
Entah kenapa
ledek-ledekan nama orang tua itu bukan hal yang jarang terjadi. Kadang hampir
tiap hari aku sering mengalaminya, kalau tidak aku yang mulai duluan, ya
temanku yang mulai. Ada yang nama bapaknya 'Warsa' diledekin jadi 'Puasa', kan
gak nyambung banget gitu. Terus ada juga 'Sukri' jadi 'Sukro', 'Wada' jadi
'Haji Wada'. Apa banget sih ledek-ledekan gak bermutu kaya gini? Tapi semuanya
tidak ada yang diambil hati.
***
Waktu berlalu terasa
begitu cepat, hingga tiba lagi saat ulangan umum dimulai. Dan kali ini aku
berniat untuk jadi orang pelit, haha *ketawa jahat*. Hey, sudah jangan mendo'akanku
untuk berbaik hati memberi contekan kali ini, berdo'a lah untuk dirimu sendiri
dan perbanyak lah belajar.
*Ting.. ting..* suara
lonceng terdengar ke seluruh penjuru sekolah, tanda waktu kelas akan dimulai.
Hari ini diadakan ulangan umum, seluruh siswa telah duduk rapi ditempatnya
masing-masing. Soal telah dibagikan, aku dengan tenang mulai mengerjakan soal
itu satu per satu.
"Lis.. Lis.."
Seseorang memanggilku, aku menoleh ke arah sumber suara. "Lihat dong"
Ria membujukku dengan wajah memelas. Hampir saja aku luluh dengan rayuannya,
tapi aku segera sadar dan berkata "Belum selesai". Dia kemudian
memalingkan wajah dengan mulut manyun. Dan aku merasa benar-benar sangat
berdosa, sangat tidak manusiawi dan aku merasa jadi orang paling tega se kelurahan.
Akh, maafkan temanmu ini kawan, aku hanya ingin menikmati hasil usahaku sendiri
tanpa ada orang lain yang menggugatnya. Dan sampai jam pulang sekolahpun dia
terlihat masih marah padaku, sungguh teman yang egois -_-.
Tapi, marahannya anak SD
tak pernah lebih dari 2 hari. Beda dengan orang dewasa yang kalau sudah marah
atau berantem tak pernah kurang dari 1 minggu, begitu sulitkah jadi orang
dewasa? Kenapa kalian terlalu gengsi untuk berkata maaf? Akh,
itu yang membuatku ogah menjadi orang dewasa.
***
Acara kenaikan kelas
berlangsung dengan meriah. Sebuah panggung yang telah di dekorasi berdiri
kokoh menghadap ke kursi penonton yang
juga telah tertata rapi. Para pedagang yang menjajakan dagangannya telah
berjejer di pinggir jalan sekitar sekolah. Seluruh siswa yang ikut serta memeriahkan acara telah bersiap
menunggu giliran untuk di make up. Acara kenaikan kelas yang rutin dilaksanakan
ini memang telah biasa dimeriahkan oleh
para siswanya sendiri dengan menampilkan berbagai tarian.
Aku saat itu tengah duduk
mengantri di barisan paling belakang, aku tidak suka terburu-buru. Pakaian yang
ku kenakan mungkin telah dibanjiri keringat, biarkan saja. Dan kini giliranku untuk di make up,
rasanya ingin kabur saja. Jujur aku tidak suka pakai make up tebal seperti itu.
Hey, aku ini masih kecil tolong jangan dandani aku seperti pengantin. Akh, aku
tak kuasa menahan segala polesan ini. Ya Tuhan,, tolong bisikkan pada mbak itu
agar tak usah berlebihan mendandaniku (˘̶̀• ̯•˘̶́')
Bibirku terasa lebih
tebal dari biasanya, dan wajahku... Oohh tidak, aku seperti siluman bumbu rujak
yang mau kawinan Щ(ºДºщ) *kemudian galau*
***
"Listia Muji
Rahayu" namaku disebut dalam acara pengumuman siswa berprestasi. Aku bengong melongo seperti nobita
kehilangan doraemon, apakah ini mimpi? Oh tidak, ini nyata. Usahaku tak
sia-sia, do'aku untuk bisa dapat bingkisan kini terjawab *berhasil berhasil... Horeee \(^_^)/ *.
Aku kemudian naik ke atas
panggung bersama teman sekelasku yang masuk ke posisi 3 besar. Aku diberi bingkisan
hadiah, dan bingkisanku isinya lebih tebal dibanding yang lainnya, jelas lah kan
peringkat 1 *Hihihi ^_^.*
Dan prestasi itu terus
aku dapat sampai lulus sekolah. Saking seringnya jadi juara kelas, saat dipanggil
naik ke panggung, mamah
yang saat itu duduk di kursi penonton mendengar ada ibu-ibu yang bilang "anak ini lagi anak
ini lagi yang jadi juara kelas". Haha,, itu orang sirik apa bosen liat
wajahku yang dungu ini :D
Setelah acara pengumuman
siswa berprestasi, dilanjutkan dengan acara hiburan. Hiburan yang tidak biasa,
para siswa berekspresi sebisanya menampilkan karya yang terbaik dalam sebuah
tarian. Aku masih ingat ada
beberapa lagu yang diputar untuk mengiringi tarianku, lagu Saras dalam
soundtrack filmnya Saras 008, lagu tema ajang pencarian bakat AFI, lagu Oh My
Darling I Love You Ost film India MDK, dan masih banyak lagi lagu lainnya terutama lagu dangdut.
Dan yang makin membuatku
geli sendiri adalah, gerakan tarian yang dibawakan selalu meniru gaya penyanyi aslinya di tv. Dan tarian yang selalu di
pertunjukkan secara bergerombol ini, membuatku yakin bahwa dulu aku adalah
bagian dari anak-anak Girlband wanna be -_-
Oohhh tidaaakkk,,,
sekarang aku sadar, ternyata aku adalah salah satu mantan personil Girlband
*mendadak galau (ʃ_⌣̀)/| *
***
This is me
LISTIA MUJI RAHAYU
Yaa,, itu nama gue.. Kece
kan?? B-)
Kadang ada orang yg bilang,
"Apalah arti sebuah
nama". Orang yg ngomong gtu pasti namanya nggak kece.
Menurut gue, nama itu berarti
banget, selain untuk membedakan setiap orang, nama juga mempunyai arti
tersendiri bagi orang2 tertentu.
Nama gue contohnya. Terdiri
dari 3 suku kata : Listia, Muji dan Rahayu. Tiap2 kata itu mengandung arti
tersendiri. Gue jelasin satu2.
LISTIA itu singkatan.
LIS » GeuLIS (B. Sunda) atau
Cantik (B. Indonesia).
Mungkin terdengar sedikit
pede, tapii ya emang kenyataannya seperti itu sh *haha
Iyaa lah cantik, kan cewe.
Masa iya ganteng?? *sirik aja
nh (̾˘̶̀̾
̯ ˘̶́̾ ̾̾'̾̾)̾
TIA » SeTIA..
Gue banget tuhh. Seinget gue
sh gue orangnya selalu setia terhadap apa yg jadi tanggung jawab gue. Selama
pacaran juga gue gak pernah ngeduain pacar2 gue yg sekarang udah jadi mantan.
Ya kalaupun gue suka sama cwo laen, itu saat gue udah jomblo.
MUJI itu do'a
Keren kan?? B-)
Gue gak ngapa2inpun udah
pasti berkah, kan nama gue udah mengandung do'a :D
RAHAYU itu selamat..
Kurang baik apa coba ortu gue
ngasi nama sebagus itu. Yaa walaupun nama Rahayu itu pasaran, udah banyak yg
pake.
Dijalan gue pernah lihat nama
itu terpampang jelas di Truk muatan, dan itu udah sering gue lihat. *Anjriitt
Щ(ºДºщ)
Ya terimakasih nama gue udah
dijadiin nama truk kalian, semoga perjalanannya menyenangkan dan selamat sampai
tujuan (̾˘̶̀̾ ̯ ˘̶́̾ ̾̾'̾̾)̾
Yaa,, itulah nama gue
LISTIA MUJI RAHAYU
Langganan:
Postingan (Atom)