Sabtu, 27 Desember 2014

Mega

Kembali ku tuntun pena dalam genggamanku
Berdiri tepat di atas lembaran kertas putih
Titik demi titik ku sambung menjadi satu
Merangkai kata yang tak bersinergi

Aku yang kini dibalut tanda tanya besar
Akan kemana aku setelah ini?
Jalan mana yang akan ku pijak?
Sementara harapan menjauh pergi

Tanah ini tak lagi basah seperti saat terguyur hujan
Tak juga kering karena sang mentari enggan menampakkan diri
Anginpun kini tak lagi menebar aroma bunga
Menghempas dedaunan dan sesekali meliukkan ranting

Gejolak dalam jiwa seolah menjelma bagai api
Mampu memanaskan hampir sekujur tubuh
Dan jika tubuh itu tersiram air
Maka berkaratlah seluruh jiwa mengeras bagai batu

Tapi aku ini mega...
Kelapanganku melebihi luasnya darat dan lautan
Tak bisa terinjak dan tak akan tergoyangkan angin
Juga tak akan terbakar api

Akulah mega...
Matahari dan bulan sebagai penerangku
Juga bintang sebagai penghiasku
Hujan dan petir senjataku
Dan pelangi sebagai pemanisku

Akulah mega...
Yang membungkus semesta
Yang begitu dekat dengan sang maha pencipta

Selasa, 18 November 2014

Muji Kecil

"Mama... Buruan, teman-temanku sudah menunggu" teriak seorang anak perempuan yang minta diikatkan tali sepatu oleh mamanya. Ya itu aku 'Listia Muji Rahayu' saat pertama masuk Sekolah Dasar, aku tak bisa mengikat tali sepatu waktu itu. Tali sepatu sudah di ikat, pakaian sudah rapi, rambut pendek tipisku yang sedikit keriting sengaja ku gerai. Ini hari pertama aku masuk sekolah, berangkat bareng Yati teman dekatku ditemani kakak perempuannya yang saat itu berada di kelas 6.
Setibanya di sekolah. Akh kenapa harus lari, entah apa yang ku pikirkan saat itu hingga aku dengan senangnya berlari mengejar temanku dari pintu gerbang sampai ke depan kelas. Suasana kelas yang ramai dipenuhi para siswa baru serta ada beberapa orang tua yang mengantar anaknya ke sekolah.
"Hiiiiks hiiiks hiiiks...." Seorang anak perempuan menangis di teras depan kelas, di sampingnya berdiri seorang ibu yang dengan setia membujuk anak kesayangannya. Di sela tangisnya anak itu berkata "Aku gak mau sekolah ma, mau pulaang.. Hiiiks hiiiks.." Aku tak menghiraukan anak itu, kemudian ngeloyor masuk ke dalam kelas. Oohh tidak, banyak sekali siswanya? Sedangkan kursinya? Hanya ada beberapa kursi di kelas tersebut, dan disinilah dunia terasa begitu sempit -_- .
Satu kursi panjang berbahan kayu ditempati oleh 4-5 orang, dan sialnya aku duduk berlima waktu itu. Aku coba untuk mengingat mereka yang dulu membuatku menderita dengan terjepit di kursi yang tak empuk itu, tapi aku tau mereka juga menderita. Mungkin kalau dulu sudah zaman alay, aku pasti akan berkata "sakitnya tuh disini" *pegang pantat, kerdipin mata 2x*. Eka, Yuli, Sumi, Yati, dan aku sendiri pastinya. Ya, sepertinya itu dia mereka yang dulu senasib denganku.
Dan saat pelajaran pertama dimulai, gerah kemudian melanda. Ohh tidak,,, AC mana AC? *kemudian buka jendela dan masuklah AG (Angin Gelebug)*. Sempit sekali, dan terasa begitu sangat menderita. Ingin rasanya lari keluar dan berteriak "Mama... Selamatkan aku... Bagaimana anakmu ini bisa belajar dengan konsen kalau duduk berlima seperti Girlband ngantri BLT?"

***

"Assalamualaikum.." Sapaku ketika sampai di rumah. Terasa begitu capek, mungkin karena ini hari pertamaku masuk sekolah. Taukah kalian, aku dan teman-temanku yang lain berjalan kaki pulang-pergi ke sekolah setiap hari. Maka jangan heran kalau anak kampung rata-rata memiliki betis yang sedikit lebih besar. Hey, jangan sebut Talas Bogor walaupun hampir mirip, karena itu penghinaan.
Mama menyambutku dengan senyum gembira "Wa'alaikumssalam.. Gimana tadi sekolahnya sayang?". Aku menjabat tangan mama, kemudian duduk di teras. "Sesak sekali kelasnya ma, aku aja duduk berlima. Kursinya gak cukup" jawabku mengadu pada mama.
"Oo'yaa?.. Tadi duduk sama siapa aja? Udah punya temen baru kan?" Mama sepertinya sedang mencoba menghiburku. "Sama si Eka, Yuli, Sumi, sama Yati ma. Si Eka sama Yuli itu orang Bekasi lho ma, mereka sodaraan" aku berkata dengan antusias, seperti hilang sudah rasa capek tadi. Setelah berbincang dengan mama, kemudian bergegas makan, selanjutnya aku pun berlalu pergi main bersama teman sekolah sekaligus teman sekampungku. Ria, Yati, Erna, dan Kur.
Aku termasuk tipe orang yang lumayan disiplin waktu itu. Malem pulang ngaji langsung belajar sambil nonton tv yang hanya punya 2 warna, hitam dan putih.  Yaa,, walaupun cuma belajar nyoret-nyoret buku buat ngelancarin nulis doang sih. Dan yang paling gak bisa diganggu gugat adalah, jam 8 malem harus sudah tidur.

***

Suasana pagi yang cerah, berjalanlah lima anak perempuan dengan wajah unyu *cenderung culun*, tampang polos *cenderung bloon*. Berjalan menyusuri jalan berbatu berdampingan. *brak, bruk, brak, bruk* Ya, itu suara tempat pensil dari dalam tas mereka saat berlari.
*Ngookk* Begitulah kira-kira suara kalsonnya. Oohh tidak, kenapa harus ada mobil truk itu? Aku adalah anak yang paling galau saat berhadapan dengan mobil sebesar itu. Bagaimana tidak? Saat mobil hendak mendekat, tiba-tiba teman-temanku berlarian menyebrang jalan. Dan sial, aku tertinggal (ʃ_̀)/|  . Aku putuskan untuk ikut menyebrang. Saat hampir tiba, kenapa sopir itu membunyikan lagi klakson yang suaranya jelek itu. Saking gugupnya, aku kembali menyebrang jalan ke tempat semula. Oohh,, nyaris sekali. Dan satu hujatan bersarang dibenakku *sakiittnya jleb banget*.

Sekolah telah ramai dipenuhi siswa berseragam putih merah. Para pedagang yang berjejerpun telah dikerumuni anak-anak manusia itu. Kenapa sepagi ini sudah menyerbu makanan di warung? Apa mereka tidak pernah dibuatkan sarapan? Atau mungkin mereka memang anak-anak manusia yang gembul? Entahlah.
Ada yang aneh saat aku memasuki kelas, ternyata kursinya beranak pinak jadi banyak. Oohh Tuhan, terimakasih telah memperbanyak kursi ini. Dan ini saatnya bilang "Merdekaa" \(^_^)/
Pelajaran pertama dimulai. Ahh,, susah sekali meluruskan pagar-pagar dalan buku ini. Pensilpun waktu itu sangat tidak bersahabat. *Srruutt* Suara apa itu? Akh jorok, ada anak ingusan, entah siapa itu aku lupa. Yang pasti suaranya sangat menganggu. Hey, buanglah dulu.
*Ting.. Ting..* bel istirahat telah berbunyi. Saatnya menyerbu warung jajanan dibelakang sekolah. Hhmm,, baju seragamku kotor kena saus -_-.
Tak bisakah sekolah ini memperpanjang jam istirahat? Aku masih ingin di luar. "Sekarang pelajaran menggambar, ayo keluarkan buku gambar kalian" ujar seorang guru perempuan yang berdiri di depan kelas.
Inilah pelajaran yang membuatku merasa teramat sangat tidak memiliki jiwa seni. Aarrgghhtt Щ(ºДºщ) terkutuklah kau gunung-gunung tajam, jalan lurus yang teramat lurus, serta pohon kelapa miring di sudut gunung. Kenapa ada pohon kelapa digunung? Bukankah pohon kelapa itu biasa tumbuh dipantai? Dan kenapa harus ada matahari di tengah gunung itu? *mendadak galau (ʃ_̀)/|*.

***

Hari-hari yang ku lalui saat itu hampir sama saja di tiap harinya, buktinya aku tidak tiba-tiba berubah jadi orang dewasa. Bertemu lagi dengan hari senin, hari dimana dilangsungkannya upacara bendera.
"Kepada, pembina upacara. Hormaaat grak!" Suara lantang pemimpin upacara memecah desis-desis suara para peserta upacara. "Tegaaaakk grak!" Dan tiba-tiba *bruk* suara puluhan tangan menepuk pangkal pahanya masing-masing secara bersamaan. Kenapa harus seperti itu coba? *mikir keras*

Jam 9 pagi, ini saatnya siswa kelas 1 pulang, ruang kelas yang dipakai untuk murid kelas 1 setelah itu digunakan untuk murid kelas 2. Ya begitulah setiap hari, sekolahku belum cukup maju waktu itu, ruang kelaspun masih kurang.
Beberapa anak berjalan bergerombol pulang ke rumah masing-masing. Di jalan semua diam tanpa suara, seperti membisu. Entah apa yang terjadi, sampai tiba-tiba *bruk* "Aduhh.." Hahh? Kur jatuh, tali sepatunya yang lepas terinjak olehku. "Maaf Kur, aku gak sengaja" aku memohon maaf, terasa sangat bersalah. "Jahat kamu Lis" dia berbicara ketus padaku. "Si Lis kan gak sengaja Kur" spontan Ria membelaku. Kur terlihat manyun dan matanya berkaca-kaca. *Bruk* Oohh tidak, kenapa dia jatuh lagi? Dan ternyata kali ini ulah Erna, dan itu sengaja. Jail sekali temanku yang satu ini, dan Kur ngeloyor pergi dengan berlinang air mata. Maafkan temanmu ini kawan.

***

"Nggak mau rambut keriting, hiiiks hiiiks.." Ya, begitulah aku selalu menangis saat kembali teringat bahwa rambutku ternyata keriting. Aku iri dengan teman-temanku, rambut mereka semua lurus. Kenapa aku sendiri yang rambutnya keriting? Aku hampir tiap pulang sekolah nangis mempermasalahkan rambutku yang tak mau lurus ini. Aarrgghhtt Щ(ºДºщ). Aku benci rambutku.
Apalagi rambutku ini selalu jadi bahan percobaan mama. "Sayang rambutnya kalau dimodel kaya gitu bagus deh" bujuk mama saat melihat orang dengan gaya rambut yang ia suka. Tidak ada orang yang memotong rambutku selain mama, dan aku pun tidak mau rambutku dipotong oleh orang lain. Dan selalu setelah memotong rambut, aku selalu nangis. Kecewa rasanya, potongan rambutku tak pernah sesuai dengan apa yang diinginkan. Dan setelah itu, mama selalu ragu kalau aku minta dipotong rambut olehnya. "Dulu juga kamu malah nangis abis dipotong rambut" ujarnya skakmat.

***

Siswa kelas 1 duduk di ruang kelas dengan mimik muka yang tegang. "Awas ntar sakit lho, pegeeeellll banget. Nanti kalo lagi disuntik jangan gerak, ntar jarumnya bisa patah dan tertinggal di pantat kalian". Salah seorang murid kelas 2 mencoba menakuti kami, dan itu berhasil. Terlihat wajah-wajah murid kelas 1 begitu pucat. "Apa benar seperti itu? Aku belum pernah disuntik sebelumnya".
Guru wali kelas ditemani seorang dokter masuk ke ruang kelas berserta beberapa guru lainnya. *Deg* degub jantungku mengeras. "Selamat pagi anak-anak" sapa guru wali kelas. "Ini ada dokter yang akan menyuntik kalian biar sehat, kalian jangan takut ini tidak akan sakit." Ibu guru mencoba menjelaskan dengan sabar.
Satu per satu siswa dipanggil ke depan, ke ruang suntik yang dihalangi tirai. Aku yang sedang menunggu giliran berharap-harap cemas "Semoga ibu guru tidak berbohong, semoga ini tidak sakit". Dan tiba-tiba "Huuuwwwaaaa..." Seorang anak keluar dari tirai dengan menangis seperti kesakitan dan teraniaya, dia digandeng oleh seorang guru yang mencoba meredakannya. Hey, kau membuat kepercayaanku terhadap guru sedikit memudar.
Dan tiba giliranku, "Tenang ya dek, gak akan sakit" bujuk dokter padaku. Aku mencoba untuk jadi anak penurut, dan.. Ahaa.. Ternyata ini tak seburuk yang kubayangkan, aku tidak menangis walaupun memang bekasnya sedikit sakit. Tapi kenapa anak tadi menangis? Akh mungkin dia si anak mami, entahlah.

***

Karet gelang, batu bata, batu kerikil, kayu, tanah, itu diantara benda-benda yang sering dijadikan objek untuk bermain. Permainan tradisional, karet gelang yang disambung menjadi tali untuk main lompat tali, batu bata yang ditumpuk kemudian dirobohkan sebagai awal permainan petak umpet, batu kerikil yang biasa dikumpulkan dalam jumlah sedikit ataupun banyak yang dijadikan permainan lempar batu, serta kayu yang di patahkan untuk kemudian dilempar dan harus ditangkap oleh lawan, kemudian ada tanah liat yang dibentuk menyerupai boneka. Selain itu, aku dan teman-temanku dulu termasuk anak-anak korban tv. Ya, kami selalu meniru acara yang ada dalam program tv. Seperti acara kuis, ataupun meniru film-film yang diputar di tv terutama filmnya alm Suzanna.
"Hi hi hi hi hi hi..." Seorang anak perempuan berrambut panjang berdiri di depan kelas sambil tertawa meniru suara hantu seperti dalam film Suzanna, rambutnya yang panjang sengaja digerai ke depan menutupi wajahnya. Sementara itu, anak-anak yang lain bersembunyi di kolong mejanya masing-masing. Ria, anak yang menirukan hantu itu melangkah perlahan ke arah meja tempat salah seorang anak bersembunyi. *Deg* kenapa aku ini, dia kan temanku sendiri bukan hantu beneran, lagian itu hanya permainan. Tapi kenapa aku setakut itu, dasar manusia parno. Tiba-tiba teman-temanku yang dari tadi bersembunyi di kolong meja berhamburan lari keluar kelas, aku tak mau ketinggalan jangan sampai hantu jadi-jadian itu menangkapku "Aaaaaaa...."
Ya, begitulah permainan anak zaman dulu. Beda dengan permainan anak zaman sekarang, semuanya serba elektronik. Dan yang lebih miris lagi, permainan tradisional kini perlahan mulai punah. Apa harus dibentuk Serikat Pelestarian Permainan Tradisional? Atau apa gitu.

***

Ulangan umum telah tiba. Selain manis, aku termasuk orang yang baik hati dan tidak sombong *jangan ngiri*. Aku tidak bisa membiarkan teman-temanku kesulitan saat mengerjakan soal, jadi aku dengan senang hati mempersilahkan mereka semua untuk nyontek. Bagaimana? :D
Dan alhasil, saat pembagian rapor dia yang dulu menyontek padaku masuk peringkat 3 besar di kelas dan mendapat bingkisan hadiah dari guru. Oohh tidaaakk,, kenapa aku sebodoh itu? Membiarkan mereka mendapat hadiah dari hasil jerih payahku. Seharusnya aku yang berdiri di tempat itu untuk menerima hadiah.
"Makanya kalau ulangan jangan dicontekin sama temen kamu, tuh kan orang mh dapet hadiah kamu mh nggak" ayah menasehatiku setelah kuceritakan semua. Aku menyesal, dan setelah kejadian itu aku kapok untuk memberikan contekan pada siapapun itu, termasuk temanku sendiri. Maaf bukannya aku berniat pelit, tapi aku juga ingin mendapat hadiah dari guru sebagai tanda penghargaan.

***

Libur sekolah, aku memanfatkan waktu sebaik mungkin untuk main. Ya begitulah naluri anak-anak. Kalau tidak nonton kartun, ya main. Apa lagi? Masa nyalonin diri jadi presiden? Kan mustahil. Dan liburan kali ini temanya main di sawah, sekaligus dalam upaya menghitamkan diri. Tapi sebenarnya memang sudah hitam sejak lahir -_-.
"Tarik Lis, terus" teriak Yati sambil perlahan mengulur benang yang terikat pada layangan. Layanganpun terbang dengan tinggi, meliuk-liuk terhempas angin. Kami berdua kemudian duduk di pematang sawah sambil menikmati hembusan semilir angin di sore itu. Sangat sejuk, suasana yang sangat memberi kenyamanan. Sementara itu, layangan yang kami terbangkan masih dengan santai berliuk mengikuti hembusan angin. Terlihat juga ada beberapa layangan milik orang lain yang ikut menari di langit-langit di atas hamparan sawah nan luas.
Selama liburan ini, aku banyak mendekatkan diri dengan alam. Main layangan di sawah, nyari tutut, atau ikut memancing ikan di sungai bersama ayah. Dan kadang, naluri jail seorang anak memang tidak pernah lepas dari anak seusiaku waktu itu. Aku yang sering main di sawah bersama Yati sering membuat hal-hal aneh.
"Terus Lis, nyampe licin banget. Ntar biar ada yang lewat kepleset. Haha.. *ketawa jahat*" Suara Yati serta gelak tawanya semakin membuatku semangat untuk terus melicinkan pematang sawah yang ku injak itu dengan air. Kedua kakiku telah kotor berlumuran lumpur, tapi masih tetap bersemangat. Itulah hal yang rutin kami lakukan saat bermain di sawah.

***

Hujan telah mengguyur sejak tadi subuh, bagaimana ini? Aku harus sekolah. Kenapa hujan turun di saat yang tidak tepat? Aku malas kalau harus berangkat ke sekolah pakai payung. Akhirnya aku berangkat meskipun manyun, dari pada telat ke sekolah. Aku tidak suka pakai payung, apalagi hujan-hujan gini sepatuku harus dibungkus pakai kantong plastik agar tidak basah. "Plastiknya jangan dilepas sampai tiba di sekolah, biar sepatunya gak basah" nasehat ayahku sebelum aku berangkat. Memalukan sekali bukan? Terlihat sangat idiot, yasudah akhirnya ku lepas saja plastiknya di depan gang.
Dan sesampainya di sekolah, sepatuku basah kena air hujan. Ini salahku karena tidak menuruti nasehat ayah -_-.

***

Becanda ala anak SD tak jauh dari ledek-ledekan nama orang tua, sepertinya sudah tradisi. "Dung dang dang dung, suara gendang bertalu-talu" seorang anak laki-laki berhidung pesek bernyanyi meledekku. Dia meledek nama ayahku 'Endang', aku balas kau. "Mari-mari berjoged bersama.." Haha, kena kau anaknya mang 'Obed' *kemudian berantem*.
Entah kenapa ledek-ledekan nama orang tua itu bukan hal yang jarang terjadi. Kadang hampir tiap hari aku sering mengalaminya, kalau tidak aku yang mulai duluan, ya temanku yang mulai. Ada yang nama bapaknya 'Warsa' diledekin jadi 'Puasa', kan gak nyambung banget gitu. Terus ada juga 'Sukri' jadi 'Sukro', 'Wada' jadi 'Haji Wada'. Apa banget sih ledek-ledekan gak bermutu kaya gini? Tapi semuanya tidak ada yang diambil hati.

***

Waktu berlalu terasa begitu cepat, hingga tiba lagi saat ulangan umum dimulai. Dan kali ini aku berniat untuk jadi orang pelit, haha *ketawa jahat*. Hey, sudah jangan mendo'akanku untuk berbaik hati memberi contekan kali ini, berdo'a lah untuk dirimu sendiri dan perbanyak lah belajar.
*Ting.. ting..* suara lonceng terdengar ke seluruh penjuru sekolah, tanda waktu kelas akan dimulai. Hari ini diadakan ulangan umum, seluruh siswa telah duduk rapi ditempatnya masing-masing. Soal telah dibagikan, aku dengan tenang mulai mengerjakan soal itu satu per satu.
"Lis.. Lis.." Seseorang memanggilku, aku menoleh ke arah sumber suara. "Lihat dong" Ria membujukku dengan wajah memelas. Hampir saja aku luluh dengan rayuannya, tapi aku segera sadar dan berkata "Belum selesai". Dia kemudian memalingkan wajah dengan mulut manyun. Dan aku merasa benar-benar sangat berdosa, sangat tidak manusiawi dan aku merasa jadi orang paling tega se kelurahan. Akh, maafkan temanmu ini kawan, aku hanya ingin menikmati hasil usahaku sendiri tanpa ada orang lain yang menggugatnya. Dan sampai jam pulang sekolahpun dia terlihat masih marah padaku, sungguh teman yang egois -_-.
Tapi, marahannya anak SD tak pernah lebih dari 2 hari. Beda dengan orang dewasa yang kalau sudah marah atau berantem tak pernah kurang dari 1 minggu, begitu sulitkah jadi orang dewasa? Kenapa kalian terlalu gengsi untuk berkata maaf? Akh, itu yang membuatku ogah menjadi orang dewasa.

***

Acara kenaikan kelas berlangsung dengan meriah. Sebuah panggung yang telah di dekorasi berdiri kokoh  menghadap ke kursi penonton yang juga telah tertata rapi. Para pedagang yang menjajakan dagangannya telah berjejer di pinggir jalan sekitar sekolah. Seluruh siswa yang ikut serta memeriahkan acara telah bersiap menunggu giliran untuk di make up. Acara kenaikan kelas yang rutin dilaksanakan ini memang telah  biasa dimeriahkan oleh para siswanya sendiri dengan menampilkan berbagai tarian.
Aku saat itu tengah duduk mengantri di barisan paling belakang, aku tidak suka terburu-buru. Pakaian yang ku kenakan mungkin telah dibanjiri keringat, biarkan saja. Dan kini giliranku untuk di make up, rasanya ingin kabur saja. Jujur aku tidak suka pakai make up tebal seperti itu. Hey, aku ini masih kecil tolong jangan dandani aku seperti pengantin. Akh, aku tak kuasa menahan segala polesan ini. Ya Tuhan,, tolong bisikkan pada mbak itu agar tak usah berlebihan mendandaniku (˘̶̀• ̯•˘̶́')
Bibirku terasa lebih tebal dari biasanya, dan wajahku... Oohh tidak, aku seperti siluman bumbu rujak yang mau kawinan Щ(ºДºщ) *kemudian galau*

***

"Listia Muji Rahayu" namaku disebut dalam acara pengumuman siswa berprestasi. Aku bengong melongo seperti nobita kehilangan doraemon, apakah ini mimpi? Oh tidak, ini nyata. Usahaku tak sia-sia, do'aku untuk bisa dapat bingkisan kini terjawab *berhasil berhasil... Horeee \(^_^)/ *.
Aku kemudian naik ke atas panggung bersama teman sekelasku yang masuk ke posisi 3 besar. Aku diberi bingkisan hadiah, dan bingkisanku isinya lebih tebal dibanding yang lainnya, jelas lah kan peringkat 1 *Hihihi ^_^.*
Dan prestasi itu terus aku dapat sampai lulus sekolah. Saking seringnya jadi juara kelas, saat dipanggil naik ke panggung, mamah yang saat itu duduk di kursi penonton mendengar ada ibu-ibu yang bilang "anak ini lagi anak ini lagi yang jadi juara kelas". Haha,, itu orang sirik apa bosen liat wajahku yang dungu ini :D
Setelah acara pengumuman siswa berprestasi, dilanjutkan dengan acara hiburan. Hiburan yang tidak biasa, para siswa berekspresi sebisanya menampilkan karya yang terbaik dalam sebuah tarian. Aku masih ingat ada beberapa lagu yang diputar untuk mengiringi tarianku, lagu Saras dalam soundtrack filmnya Saras 008, lagu tema ajang pencarian bakat AFI, lagu Oh My Darling I Love You Ost film India MDK, dan masih banyak lagi lagu  lainnya terutama lagu dangdut.
Dan yang makin membuatku geli sendiri adalah, gerakan tarian yang dibawakan selalu meniru gaya penyanyi aslinya di tv. Dan tarian yang selalu di pertunjukkan secara bergerombol ini, membuatku yakin bahwa dulu aku adalah bagian dari anak-anak Girlband wanna be -_-
Oohhh tidaaakkk,,, sekarang aku sadar, ternyata aku adalah salah satu mantan personil Girlband *mendadak galau (ʃ_⌣̀)/| *

***





This is me

LISTIA MUJI RAHAYU
Yaa,, itu nama gue.. Kece kan?? B-)
Kadang ada orang yg bilang,
"Apalah arti sebuah nama". Orang yg ngomong gtu pasti namanya nggak kece.
Menurut gue, nama itu berarti banget, selain untuk membedakan setiap orang, nama juga mempunyai arti tersendiri bagi orang2 tertentu.
Nama gue contohnya. Terdiri dari 3 suku kata : Listia, Muji dan Rahayu. Tiap2 kata itu mengandung arti tersendiri. Gue jelasin satu2.

LISTIA itu singkatan.
LIS » GeuLIS (B. Sunda) atau Cantik (B. Indonesia).
Mungkin terdengar sedikit pede, tapii ya emang kenyataannya seperti itu sh *haha
Iyaa lah cantik, kan cewe.
Masa iya ganteng?? *sirik aja nh (̾˘̶̀̾ ̯ ˘̶́̾ ̾̾'̾̾)̾

TIA » SeTIA..
Gue banget tuhh. Seinget gue sh gue orangnya selalu setia terhadap apa yg jadi tanggung jawab gue. Selama pacaran juga gue gak pernah ngeduain pacar2 gue yg sekarang udah jadi mantan. Ya kalaupun gue suka sama cwo laen, itu saat gue udah jomblo.

MUJI itu do'a
Keren kan?? B-)
Gue gak ngapa2inpun udah pasti berkah, kan nama gue udah mengandung do'a :D

RAHAYU itu selamat..
Kurang baik apa coba ortu gue ngasi nama sebagus itu. Yaa walaupun nama Rahayu itu pasaran, udah banyak yg pake.
Dijalan gue pernah lihat nama itu terpampang jelas di Truk muatan, dan itu udah sering gue lihat. *Anjriitt Щ(ºДºщ)
Ya terimakasih nama gue udah dijadiin nama truk kalian, semoga perjalanannya menyenangkan dan selamat sampai tujuan (̾˘̶̀̾ ̯ ˘̶́̾ ̾̾'̾̾)̾

Yaa,, itulah nama gue

LISTIA MUJI RAHAYU

Tiga Satu