Senin, 27 Desember 2021

Cerita dijalan #3

Jalanan sedikit ramai dan cuaca sedang cerah-cerahnya siang itu. Pemandangan di depanku pun sedang mesra-mesranya ketika kulihat sepasang remaja berboncengan motor.
Si puan seolah sangat amat takut kehilangan tuannya, dirangkulnya sang tuan dengan sangat erat. Seolah mengisyaratkan "Dia milikku!"
Sang tuan pun terlihat jumawa, berkendara perlahan, sambil sesekali menengok kanan kiri.
Aku tersenyum, seperti ada perasaan lucu yang begitu menggelitik ketika menyaksikan drama percintaan di depanku.




***

Senin, 20 Desember 2021

Teruntuk pejuang di dalam diriku..

Terimakasih Tuhan, telah menciptakanku sebagai perempuan tangguh.
Kurasa hipotesa-ku benar selama ini, aku adalah manusia super.
Tapi kenapa pula tidak engkau ciptakan hati yang juga super untukku?
Atau jangan-jangan sebenarnya, justru aku bertahan sejauh ini karena hatiku yang begitu kuat?
Ah, telah kemana rasa syukurku..

Teruntuk pejuang di dalam diriku.
Terimakasih ya telah bertahan sampe hari ini.
Ingat, ada banyak harapan yang bergantung padamu. Ada banyak hati yang harus dibahagiakan.
Memang tak mudah menjelma berbagai peran, tapi tanggung jawab itu kini ada di pundakmu.
Tak apa merasa lelah, ada aku, ada Allah yang selalu siap sedia mendengar keluh kesahmu.
Dia memilihmu karena hanya kamu yang mampu.
Percayalah, Allah maha tau, maha adil..

Teruntuk pejuang di dalam diriku.
Satu.. tiga.. bahkan bertahun-tahun ke depan kita akan sama-sama membaca tulisan ini kembali.
Dengan perasaan yang lega, dengan senyum mengembang di bibir, serta dengan rasa syukur karena dianugerahi hidup yang lebih baik.
Tapi, seandainya umur kita tak sampai untuk itu, setidaknya tulisan ini akan tetap ada, tak termakan waktu, abadi..
Menjadi saksi atas kuatnya kamu untuk dirimu sendiri, juga untuk orang-orang disekitarmu..





***

Selasa, 07 Desember 2021

Maaf, dari anak tengah

Hujan turun sejak tadi malam
Dibalik rintiknya, ada pemandangan yang begitu menghangatkan hati
Di seberang sana, di depan teras rumah
Seorang anak tengah berbincang dengan ayahnya
Tawa mengembang dari keduanya
Manis..
Ahh.. Aku merindukan moment itu..

Ayah..
Apa kabar?
Maaf belum bisa menjadi yang ayah mau
Belum bisa menjadi Dosen seperti yang ayah banggakan, apalagi menjadi Polwan seperti cita-citaku dulu
Bahkan Tesisku terbengkalai sampai sekarang
Entah aku masih dianggap sebagai mahasiswa,  atau sudah dicoret dari kampus
Maaf atas semua ketidakmampuanku

Maaf..
Teteh bahkan belum bisa menjadi adik yang baik buat aa
Belum bisa jadi teteh yang baik buat si eneng
Dan belum bisa menjadi anak yang baik untuk mamah dan ayah

Terimakasih atas didikan ayah saat teteh kecil dulu, itu yang bisa buat teteh sekuat sekarang
Didikan tegas yang sering buat teteh nangis dan sebel sama ayah
Teteh masih inget gimana galaknya ayah saat ngajarin matematika, atau gimana tegasnya ayah saat ngajarin teteh dasar-dasar ilmu bela diri, apalagi marahnya ayah saat teteh gak mau belajar ngaji
Serta omongan-omongan pedas ayah ketika teteh ngelakuin kesalahan
Tapi sekarang teteh sadar, itu semua ayah lakuin agar teteh lebih pandai bersikap, mampu melakukan banyak hal, serta tidak tumbuh menjadi anak yang manja dan bergantung pada orang lain
Teteh ngerti perlakuan ayah seperti itu karena ayah sayang sama teteh, hanya mungkin caranya yang dulu sulit dimengerti

Sekarang semuanya terbukti..
Seiring berjalannya waktu, aku tumbuh menjadi perempuan mandiri, tidak manja, dan aku mampu

Maaf dan terimakasih atas semuanya




***

Senin, 06 Desember 2021

Surat untukmu (4)

Haii..
Apa kabar?
Lama tak menulis untukmu..

Hari ini aku sedang tidak baik-baik saja
Perasaanku sering labil, mood-ku naik turun
Kau dimana?
Kenapa lama sekali?
Aku sangat butuh dibimbing, tak mau hilang arah lagi dan lagi

Sementara hujan Desember telah turun sejak beberapa hari lalu
Namun, masih tak ku temukan sosok hangat dibaliknya
Hanya tanah-tanah basah, air tergenang, dan angin yang kerap hilang kendali

Hadirmu..
Aku butuh..
Teramat sangat..



***

Cerita dijalan #2

Semuanya seperti hilang akal. Serobot sana sini, salip kanan kiri. Kemacetan mengular panjang, bising klakson bersahutan.
Saya tau semua terburu-buru, karena begitulah manusia. Tapi, tidak bisakah Tuan dan Nyonya sabar barang sebentar?
Bukankah kau pun tau, gaduh klakson mu tak bisa melerai kemacetan.
Jadi, kenapa masih saja keras kepala?




***

Tiga Satu