Suara adzan berkumandang di pelosok desa, bersahutan antar mesjid. Aku yang sejak tadi rebahan di samping mama segera bergegas. Berjalan beriringan, aku, mama dan adik.
Jemaah mesjid cukup banyak, maklum lah hari pertama tarawih selalu begitu, coba saja beberapa hari kemudian.
Sholat Isya berjalan khusyu meski cekikikan anak kecil masih terdengar bersahutan dengan sesamanya.
Suara bilal sudah terdengar, tanda dimulainya shalat tarawih. Ada yang berdesir, ketika sujud pertama tarawih. Ya, selalu begitu. Tak hanya tahun ini, tahun-tahun sebelumnya pun seperti itu.
Selalu ada sensasi tersendiri saat dipertemukan dengan bulan Ramadhan, begitupun saat berakhirnya bulan itu.
Tatapanku nanar memandang sejadah, memori tentang pahit manisnya kehidupan tergambar kembali dalam ingatan. Tak ada yang lebih indah dari kata syukur. Padahal baru kemarin rasanya aku sholat tarawih bersama teman-teman pengajian. Sholat yang tak pernah serius, selalu disisipi canda dan makanan yang tentunya tak pernah ketinggalan dibawa. Dan sekarang, lebih dari sepuluh tahun dari masa-masa itu. Aku bersyukur telah sampai sejauh ini, dan masih bisa dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan.
Mataku berkaca-kaca, ku harap tak seorangpun tau. Entah apa arti dari tangisan ini.