Senin, 05 Desember 2016

Rinduku terbawa angin Desember

Aku pernah punya rindu, secara alamiah duniaku terpusat padanya.
Sampai rindu terasa makin berat menikamku.
Aku lelah, ingin istirahat. Dan tak ingin rindu. Berat. Sudah kucoba, dan aku tak kuat.
Kini, rinduku perlahan lenyap terbawa angin Desember.
Disitukah sekarang kau berada?

Sabtu, 22 Oktober 2016

Malam ini aku masih sendiri

Biar rindu beradu sepi, menyibak tabir semesata dengan kebiadaban waktunya.
Bisa apa aku selain menunggu, mematung sendiri dibully waktu.
Membiarkan senja bertengger dengan jumawa.
Malam ini aku masih sendiri.

Angin malam menyayat tubuh tanpa dekapmu, menggigil menjalar sendi tembus hingga ke jantung.
Sementara nyamuk-nyamuk lapar terus mengintai. Seperti lelucon, ditatapnya aku berpasangan.
Malam ini aku masih sendiri.

Kuhitung detik berjalan lambat, menitpun berlalu bagai drama yang diputar berulang kali. Membosankan.
Terdengar riuh di halaman. Dijadikannya aku bahan guyonan serangga di luar sana.
Malam ini aku masih sendiri.
Menunggu dipersuntingmu.



Karawang, 19 Oktober 2016

Rabu, 07 September 2016

Ayah

Lelaki tua itu menangis, tangan-tangan berotot yg mulai rapuh mengelus rambut gadis kecil di sampingnya.
"Ayah sudah tua, penyakit ayah tak hanya satu. Mungkin umur ayah gak lama lagi". Kalimatnya terhenti terseling isak, tangannya yang dulu tegar mengusap air dari matanya. Aku hanya diam, dalam hati menahan lara.
"Kalian sudah dewasa, sudah mandiri, bisa cari uang sendiri. Yang paling ayah khawatirkan adalah ini si bungsu". Gadis kecil itu hanya diam mencoba mencerna maksud dari perkataan lelaki yang ku panggil ayah.
Percakapan malam itu masih membayang, seperti kabut pekat ditengah malam. Menggelapkan gelap.
Ayah begitupun mamah, semoga diberi umur panjang untuk bisa menyaksikan anak-anakmu sukses nanti. Bisa menyaksikan anak-anakmu menikah, dan memberimu cucu. Semoga. 

Senin, 06 Juni 2016

Marhaban ya Ramadhan

Suara adzan berkumandang di pelosok desa, bersahutan antar mesjid. Aku yang sejak tadi rebahan di samping mama segera bergegas. Berjalan beriringan, aku, mama dan adik.
Jemaah mesjid cukup banyak, maklum lah hari pertama tarawih selalu begitu, coba saja beberapa hari kemudian.
Sholat Isya berjalan khusyu meski cekikikan anak kecil masih terdengar bersahutan dengan sesamanya. 
Suara bilal sudah terdengar, tanda dimulainya shalat tarawih. Ada yang berdesir, ketika sujud pertama tarawih. Ya, selalu begitu. Tak hanya tahun ini, tahun-tahun sebelumnya pun seperti itu. 
Selalu ada sensasi tersendiri saat dipertemukan dengan bulan Ramadhan, begitupun saat berakhirnya bulan itu.
Tatapanku nanar memandang sejadah, memori tentang pahit manisnya kehidupan tergambar kembali dalam ingatan. Tak ada yang lebih indah dari kata syukur. Padahal baru kemarin rasanya aku sholat tarawih bersama teman-teman pengajian. Sholat yang tak pernah serius, selalu disisipi canda dan makanan yang tentunya tak pernah ketinggalan dibawa. Dan sekarang, lebih dari sepuluh tahun dari masa-masa itu. Aku bersyukur telah sampai sejauh ini, dan masih bisa dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan.
Mataku berkaca-kaca, ku harap tak seorangpun tau. Entah apa arti dari tangisan ini.

Sabtu, 04 Juni 2016

Bambu

Apa kau lihat bambu di kebun sana?
Ya seperti itulah aku
Nampak kokoh, berdiri tegak menjulang tinggi
Tidak kah kau lihat dalamnya bambu itu?
Berongga, kosong, tak berisi
Terkadang dihinggapi rayap
Ya begitulah aku

Selasa, 26 April 2016

Kucing berbulu jingga

Berjalan tertatih, menyusuri trotoar jalan. Kucing kecil berbulu jingga. Menengadahkan pandangan melihat lalu-lalang orang disekitarnya, debu jalanan menempel di bulu-bulu kusamnya.
Mendekatlah dia pada seorang anak dengan makanan ditangannya, berharap secuil makanan ia dapatkan. Namun apalah daya, tendangan imut dari anak itu mendarat tepat di perutnya. Ia terkapar, kemudian bangkit dan berlalu.
Berjalan lah ia kembali menyusuri trotoar jalan. Didapatinya warung nasi di pinggir jalan. Matanya memandang lekat sang tuan warung, berharap sedikit iba dari sesama makhluk Tuhan. Nihil, tanpa ampun ia diusir.
Si kucing kecil berbulu jingga. Angin kencang berembus menerpa tubuh mungilnya, sementara rintik hujan mulai jatuh.
Ia bergegas lari mencari atap untuk berteduh. Sampailah ia pada ruko kosong di pingiran jalan. Berdiri basah kuyup menahan lapar.
"Andai aku bisa memilih, aku ingin diciptakan sebagai manusia" batinnya.
Perlahan hujan menghapus jejak-jejak kecilnya. 

Tiga Satu