Ini pengalaman terunik dan paling mendilemakan, *hhmm* iya bener mendilemakan atau kalau kata anak alay zaman sekarang itu yang disebut galau. Ini bisa dibilang 'Best Adventure' aku dan mereka sahabat yang setia berbagi uang jajan *oopss*, maksudnya berbagi suka maupun duka *peluk sahabat*.
Apa yang dilakukan para jomblo saat musim liburan tiba? Pasti milihnya liburan sama keluarga atau teman. Atau mungkin ada yang memilih liburan dengan hewan peliharaannya *yuck*, itu sudah pasti jomblo ngenes.
Opsi liburan bareng teman atau sahabat mungkin lebih banyak diminati, sama seperti aku. Tapi bedanya aku tidak sedang jomblo waktu itu, tapi bisa dibilang 'Jablai' alias jarang dibelai *hiks :'( *.
Seperti cewek kece pada umumnya, kegiatanku sore itu tengah asik berada di depan cermin *bersihin kaca*. Getar ponsel yang ku letakkan di lemari mengagetkanku, entahlah aku sering merasa kaget pada segala sesuatu yang terjadi tiba-tiba. Rupanya ada pesan BBM masuk dari Oci "Hari minggu hang out ke Loji nyok", pesan dikirim "Ok, siapa aja?". Pesan masuk lagi, "Lu ajakin aja yang laen, hari minggu pagi stay dulu dirumah gue". "Ok" balasku singkat. Yess.. Akhirnya bisa ngerasain juga yang namanya liburan \(^_^)/. Ya walaupun sama temen sih, tapi mereka juga termasuk dalam golongan orang-orang spesial untukku.
Tidak ada banyak hal yang bisa dilakukan para jomblo saat malam minggu tiba. Selain ngegalau sampai pagi, paling update status alay di berbagai media sosial. Atau kalau nggak paling nongkrongin tv sampe larut. Tapi sekali lagi aku tegaskan, aku bukan jomblo. Dari pada terhasut kegiatan-kegiatan yang tidak menyehatkan, aku teringat ajakan Oci tadi sore dan memilih untuk mengirim pesan multiple chat ke 6 orang teman dikontak BBM "Ladies besok merapat yuk, yang Loji yang Loji :D". Yaahh namanya perempuan naluri ibu-ibunya sangat lekat, keputusan belum deal malah ngerumpi duluan. Dan sampai akhirnya aku hanya berhasil menghasut 2 orang yang akan ikut jalan di penghujung libur Idul Fitri tahun ini, jadi total ada 4 orang : Oci, Ega, Teh Wiwi dan aku pastinya.
***
Minggu pagi. Sepedah Motor sudah dipanaskan, pakaian sudah rapi, celana jeans biru, kaos tangan panjang dibalut sweter kaos tebal bergaris abu-abu dan hitam. Sebagai perempuan muslim yang mencoba untuk taat pada agama tentu saja pakai kerudung, kerudung segi empat berwarna abu-abu tua yang aku kenakan saat itu. Masker, kaca mata serta helm tak pernah ketinggalan bagi lady bikers *hihii :D *, tak lupa memakai sandal karet yang nyaman dipakai jalan saat tanjakan maupun turunan, meskipun bukan sandal gunung.
Berangkat dari rumah kurang lebih jam 7 pagi, "Teteh mau kemana?" Tanya Mila si bocah rese, dan dia itu adikku *huft*. "Mau maen lah, jalan-jalan" jawabku terkesan sombong *haha :D *. "Iikuuttt..." Rengeknya. "Anak kecil gak boleh ikut, ini khusus orang dewasa" tegasku berlagak so orang dewasa. "Dasar pelit" rutuknya seraya mencibirku. "Makanya jangan mau jadi anak SD terus" ledekku kemudian berlalu pergi setelah terlebih dahulu pamit.
Kurang lebih jam 8 aku tiba di rumah Oci, dan dia belum mandi *iiuuwhh*. Jam Indonesia itu memang terkenal lamban, janji kumpul jam 8, jam 9 baru pada nongol *huft*. Ega dan teh Wiwi turun dari motor, dan mereka sukses membuatku bengong ngezombie seketika. Ega pakai sandal ala ibu-ibu mau kondangan, serta teh Wiwi yang memakai gamis ala ibu-ibu pengajian. Aku rasa mereka salah kostum, atau mereka kira mau diajakin ke tempat halal bihalal kali ya? *hhmm*. "Wooyy,, itu gak salah pake baju begitu?" Teriak Oci heboh, maklumlah anak itu memang suka heboh sendiri. "Kalian gak ngira mau diajakin kondangan atau halal bihalal kan? Itu kostumnya gak salah tuh?" Tanyaku heran. Dengan datarnya teh Wiwi menjawab "Nggak, udah kayak gini. Emangnya kenpa? Wi udah biasa pake baju kayak gini". "Aku gak ada sandal lagi dirumah, yaudah pake sandal yang ini" seru Ega memelas. Dan aku hanya tersenyum melihat kedua temanku itu.
Kurang lebih jam setengah 10 kamipun berangkat, Loji I'm comming \(^_^)/. Loji itu nama daerah di ujung selatan kabupaten Karawang, perbatasan dengan Bogor. Tempat yang akan kami kunjungi disana adalah wisata air terjun, atau yang populer dengan sebutan 'Curug Cigentis'. Jalan yang dilalui menuju tempat yang dituju lumayan jauh, dan semakin dekat ke tempat tujuan jalan yang dilaluipun cukup memicu adrenalin.
Tikungan tajam serta tanjakan dan turunan curam bukan hal yang tak jarang ditemui. Aku dibonceng Oci, dan dia terlihat masih kuat memacu motor sejauh perjalanan. Di jalan curam seperti itu dia tak mempercayaiku membawa motor, mungkin dia masih kapok pernah dibawa nyungseb saat ke Lembang tempo dulu *hihii :D *.
Sedangkan Ega yang bodynya imut-imut kayak marmut harus sanggup bawa motor boncengin teh Wiwi sampe ke ujung. Sungguh teganya teh Wiwi, gantiin ke bawa motornya. Dan rasa kemanusiaanku tiba-tiba tersentuh. "Ci, kasian banget si Ega bawa motor dari tadi, mana badannya kecil. Berhenti dulu deh, biar gue gantiin dia, ntar teh Wiwi sama elu". Oci akhirnya nurut dan kami kemudian berhenti, motor yang ditumpangi Ega dan teh Wiwi pun ikut berhenti dibelakang motor yang ku tumpangi. "Ega capek gak bawa motornya? Biar aku gantiin deh. Teh Wiwi biar dibonceng sama Oci" usulku, Ega terlihat lega menerima tawaranku. Perjalananpun dilanjutkan, dan kali ini aku yang bawa motor. O'ooww.. Motornya gak nyaman, stangnya kaku dan berat. Kalau belok jadi susah, musti ekstra hati-hati.
Nuansa alam semakin melekat, sudah terasa udara sejuk dibanding di daerah perkotaan. Pepohonan rimbun di kiri dan kanan jalan, menambah indahnya panorama alam. Terlihat juga di pinggiran jalan penjual makanan telah rapi menjajakkan dagangannya.
Aku dengan sangat hati-hati mengendarai motor punya teh Wiwi itu dengan pelan, "Ega ko bisa kuat sih bawa motor beginian sampe sejauh tadi? Kan pegel banget" tukasku. "Iya Lis, makanya tadi aku bawa motornya pelan-pelan. Stangnya gak enak, kalo mau belok susah, berat" jawab Ega dari belakang. Sedangkan motor yang dikendarai Oci telah jauh di depan, susah emang kalau lawan pembalap.
Jalan yang dilalui semakin curam, tanjakan dan belokkan sudah banyak terlewati. "Jangan terlalu tinggi neng" seru salah seorang penjaga tempat parkiran yang ku lewati. Tinggi? Apanya yang tinggi?.
Dan sampailah kita di penghujung jalan aspal, parah banget jalan semakin atas semakin jelek. Aku tidak sanggup dan seketika melambaikan tangan ke kamera *Uupss* maksudnya langsung berhenti. Mungkin ini yang dimaksud tukang parkir tadi bahwa jangan terlalu tinggi. "Ga, berhenti disini aja ya. Gak sanggup deh kalo harus naik lagi, jalannya berbatu kayak gitu" pintaku. "Iya udah motornya parkir disini aja" ujar Ega. "Teh Wiwi... Udah parkir disini aja" teriakku. Orang yang dimaksud kemudian menurut, meski awalnya aku lihat Oci masih ingin meneruskan perjalanan dengan sepedah motornya.
Aku kemudian memarkirkan motor ke tempat parkir di sebelah kanan jalan, sedangkan motor Oci diparkir di tempat sebelah kiri. Parkirannya lumayan penuh sehingga terpaksa kebagian tempat di paling belakang. Ega dan teh Wiwi saat itu berjalan mengikutiku sambil menenteng helmnya masing-masing. "Oci dimana teh?" Tanyaku pada teh Wiwi. "Nunggu di depan, Wi kesini dulu mau nyimpen helm" jawabnya. "Ngapain coba nyimpen helmnya ngikut-ngikut? Kan bisa nyimpen di motor Oci juga" pikirku dalam hati. Setelah parkir dan menyimpan helm, kami bertiga kemudian keluar menuju tempat Oci memarkirkan motor.
Setibanya di depan parkiran dia tidak ada, tapi jelas motornya sudah terparkir. "Tadi sih bilangnya mau nyari toilet dulu" ujar teh Wiwi. Oke kita tunggu, 1, 5 sampai 10 menit tak kunjung datang. "Apa mungkin dia udah duluan?" Seru teh Wiwi, "Iya kali udah duluan" sambung Ega. "Masa sih duluan? Ditempat seramai ini? Tapi mungkin juga sih dia nungguin di atas" tukasku.
Kami bertiga kemudian memilih melanjutkan perjalanan. Baru berjalan sekitar kurang lebih 3 m, jalan tanjakan berbatu ini membuatku merasakan betapa beratnya hidup di dunia *hiks :'( *, terlebih teriknya sinar mentari siang itu memaksaku untuk beristirahat sejenak. Kami bertiga duduk di pinggir jalan berbatu melepas peluh, keringat telah mengucur sejak tadi. "Gimana nih teh? Ko gak ada juga sih? Apa mungkin dia nungguin kita di bawah?" Tanyaku cemas. Teh Wiwi juga terlihat gusar, "Iya nih, jangan-jangan dia sekarang lagi nungguin kita di bawah. Ntar marah lagi". "Terus gimana nih, mau turun lagi?" Tukas Ega. "Coba telpon dulu deh" tambah teh Wiwi. "Gak ada sinyal teh" ujarku dengan nada melemah.
Kemana lagi tuh anak? Masa iya ilang sih? Gak lucu banget kan anak segede itu ilang? Dan akhirnya kami memutuskan untuk turun, kembali ke tempat parkiran. Meskipun capek tapi ini demi Oci sahabatku, dia harus ketemu. Ntar aku pulang sama siapa kalau dia gak ada? *pikirku, hihii :D *
Setibanya di tempat parkir, mataku melihat ke sekeliling. Tetap tidak ditemukan tanda-tanda adanya cewek tomboy berbadan subur itu, tapi motornya dengan jelas masih terparkir. Dengan inisiatif bersama kami bertiga mendekati tukang parkir tempat Oci menitipkan sepedah motornya. "Bang-bang, lihat orang yang punya motor ini gak?" Tanyaku sambil menepuk jok motor sahabatku itu. "Oohh yang itu neng? Yang orangnya mirip orang Cina?" Tanya si abang tukang parkir. "Bukan bang, ko mirip orang Cina sih?" Bantah Ega dan teh Wiwi *tapi emang agak mirip sih*. "Iya yang badannya gemuk, rambutnya pendek?" Kata si abang parkir lagi. Aku dan kedua temanku hampir bersamaan sumringah dan tanpa sadar bersamaan teriak "Iya..". "Yang pake kacamata kan neng?" Sambung si abang tukang parkir lagi. Seperti tadi kami bertiga menjawab "Iya". Kemudian abang tukang parkirnya ngomong lagi, "Yang sama bapak-bapak kan?". Dan omongannya yang tadi itu membuat cewek kece bertiga ini langsung teriak "Bukaannn..", sambil nahan kesel ke si abang tukang parkir.
Gimana sih nih orang, awal-awalnya udah bener ujung-ujungnya ngelantur. Masa iya Oci pergi sama bapak-bapak, orang kita berangkat bareng. Atau jangan-jangan, dia diculik sama om-om *iiuuwwhh* jangan sampe deh. "Abang gimana sih, bener gak orangnya yg punya motor ini?" Tanyaku lagi meyakinkan sambil menepuk-nepuk jok motor sahabatku yang hilang beberapa menit lalu. "Iya bener neng, abang masih inget ko cewek yang punya motor itu. Tadi dia udah naik ke atas, gak tau yang bapak-bapak mh bareng dia apa nggak" jelas si abang tukang parkir. Tiga pasang mata menatap tajam penuh tanya ke arah si abang tukang parkir, "Yang bener nih bang?" Tanyaku lagi. Dengan sigap yang ditanyapun menjawab, "Iya bener neng, masa iya boong". "Yaudah deh bang, makasih" kemudian kami bertiga pergi melanjutkan perjalanan.
Naik lagi ke atas melewati jalan berbatu berpayung teriknya sinar mentari sambil memikul segudang pertanyaan. "Masa iya sih si Oci pergi sendiri di tempat seramai ini?" ujarku penuh tanda tanya. "Tapi kalo Oci sih mungkin aja, dia kan anaknya gitu. Pasti berani pergi sendiri juga" timpal teh Wiwi. "Tapi teh, ini tuh tempat ramai, banyak orang. Kasian dia sebatang kara di tengah kerumunan orang asing" ujarku pilu *lebay, hihii :D *. "Apa mungkin dia kerumah sodaranya, kan katanya deket sekitar sini. Atau mungkin ketemu temennya kali" sambung Ega.
Kami bertiga kemudian berhenti kembali di pinggir jalan berbatu, duduk di pinggir jalan memperhatikan gerombolan orang yang lewat melintas di depan kami. Cemas dengan nasib sahabat kami yang belum juga ketemu, tak hentinya bergantian dari kami mencoba menghubungi. Tapi sinyalnya jelek minta ampun, mungkin lebih jelek dari mak lampir penunggu gunung merapi. Dan sekalinya di telpon nyambung, malah gak diangkat. Maunya apa coba nih orang? Gak tau temen-temennya khawatir apa ya?
Dan saat seperti itulah galau melanda, antara balik lagi atau lanjut. "Neng ojek neng" seru bapak tukang ojek di sebrang jalan. Dia gak tau kita lagi berduka apa? Dan langsung terpikir "Gimana kalau nyuruh si bapak tukang ojek aja buat nyari Oci?" Pikirku. Tapi akh dia sudah pergi, lagian apa gak terlalu lebay pake nyuruh tukang ojek segala?
"Eehhh Oci nih nelpon" seru Ega sumringah. Dan kalian tau dia dimana? Dia udah nyampe tempat tujuan lebih dulu. Ajaib gak tuh orang? Syukurlah kawan, kamu tidak apa-apa *hiks :'( *. Dan setelah mendengar kabar itu rasanya kayak terbebas dari utang tunggakan motor *plong*.
Dengan optimis aku dan kedua sahabatku ini kemudian melanjutkan perjalanan dengan suka cita. Efek ngegalau kurang lebih 1 jam tadi perut mulai keroncongan, oke kita mampir dulu ke warung sepertinya mie rebus cukup buat ganjel perut. Rupanya di warung tersebut sinyalnya lumayan bagus, Oci nelpon marah-marah nanyain "Masih dimana?", mungkin dia udah kangen pengen ketemu sahabatnya yang kece badai ini *hihii :D *.
Setelah lumayan cukup jauh berjalan, akhirnya tiba di tempat Oci menunggu. Di warung pinggir batu besar yang mengalir air di bawahnya dengan cukup deras.
"Lama banget sih, gue nungguin dari tadi. Gue udah naik ke atas, udah turun lagi, udah keliling-keliling, belom nongol juga" ya begitulah bertubi-tubi ceramah dari Oci yang cukup memekakan telinga. Maksudnya apa coba marah-marah gitu, dia gak tau apa aku sama yang lain juga nyariin dia sampe kalang kabut. Udah khawatir, eehh yang dikhawatirinnya malah gak ngehargain *sungguh terlalu*.
"Hehh,, kita tuh nyariin lu dari tadi. Nungguin lu di bawah kaga ada, naik ke atas juga kaga ada, yaudah turun lagi, eh malah kaga ada juga. Nah elu malah disini, gue takut lu ilang tau gak?" Aku sewot udah kayak ibu-ibu kostan *hihii :D *. Dan Oci dengan seenaknya menjawab "Yang ada tuh kalian yang ilang, bukan gue" sewotnya diakhiri ketawa. Maksudnya apa coba?
Kemudian kamipun melanjutkan perjalanan, karena tempat yang dituju masih beberapa meter lagi di atas. Sesampainya, pemandangan alam Curug Cigentis telah terpajang menghias pandangan. Tapi kerumunan orang di sekitar air terjun itu sungguh sangat merusak panorama alam *huft*.
Dan itulah pengalamanku yang paliing... Apa ya?
Paling apa banget sih -.-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar